Akta Kelahiran Belum Diterbitkan, Anak Pemulung di Palopo Ini Tidak Dapat Sekolah

oleh -805 views
Asmalia (7), anak bungsu dari pasangan Azis - Ria, warga Kelurahan Salekoe, Wara Timur, Kota Palopo, yang berprofesi sebagai pemulung. Dia tidak dapat mengenyam pendidikan karena akta kelahirannya tidak terbit dari Dinas Dukcapil Palopo.

LISTINGBERITA.COM|PALOPO – Ditengah pembangunan Kota Palopo yang begitu megah dengan anggaran hingga ratusan miliar,  ternyata masih terdapat warga yang terlantar dan jauh dari kata sejahtera.

Sangat miris, namun itulah faktanya.  Azis Mudain (48), warga BTN Merdeka Non Blok, Kelurahan Salekoe, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo. Ia hidup bersama istri dan empat orang anaknya yang hanya mengandalkan hasil barang bekas yang dikumpulkan.

Dalam kurung waktu 2 tahun terakhir, dirinya tak lagi mendapatkan bantuan berupa beras rastra dari pemerintah Kota Palopo, bahkan pemerintah kelurahan pun jarang mengunjungi kediamannya.

Pada hal mereka tergolong warga yang berhak mendapatkan bantuan program pemerintah daerah mau pun pemerintah pusat, seperti PKH dan yang lainnya.

“Iya,  sudah 2 tahun terakhir tidak ada bantuan beras raskin, bantuan lain juga tidak ada,” ungka Asiz dengan mata berkaca-kaca.

Untuk meringankan beban suaminya dalam mencari nafkah, Ria (37) istri Asiz terpaksa harus menjadi pembantu rumah tangga, dan sesekali ikut memulung sang suami.

Beban keluarga Asiz semakin diperparah dengan tidak adanya sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk memasak, mereka terpaksa meminta kepada tetangga.

“Sudah 10 tahun disini tidak ada air bersih, kalau mau masak hanya numpang di air ledeng tetangga,  karena tidak memiliki sumber air dari PDAM Kota Palopo,” kata Ria.

Bukan hanya itu saja. Sulitnya menopang hidup keluarga, membuat anak bungsunya yang bernama Asmalia (7), tidak dapat mengenyam dunia pendidikan seperti anak pada umumnya. Selain karena masalah biaya, Akta kelahiran juga membuat anak itu tidak bersekolah.

“Tidak sekolah karena akta kelahiran tidak ada. Saya sudah urus di Kantor Lurah tapi disuruh ke Dukcapil. Tapi disana disuruh lagi kembali ke Kelurahan karena kelengkapan berkas,” terang Ria dengan nada sendu.

Asmalia yang bercita-cita menjadi seorang dokter, kini hanya tinggal angan karena persoalan akta kelahiran dan ketidakberdayaan orang tuannya. Disaat teman sebayanya kini menuntut ilmu, Asmalia justru ikut membantu orangnya mengais rejeki dengan memulung.

Keluarga Asiz hanya berharap, pihak Pemerintah Kota Palopo dapat meringankan beban, dengan menertibkan Akta Kelahiran anaknya, sehingga dapat mengeyam pendidikan dan dapat meraih cita-citanya. (**)

Tentang Penulis: Zulpadli

Zulpadli
Anak keempat dari lima bersaudara yang lahir di Kendari, 12-Feb-1994.