DPP Panji: Pemerintah Jeneponto Tak Peduli Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng

oleh -1222 Dilihat
Sejumlah pengungsi korban gempa dan tsunami Sulteng makan bersama di Rumah Rauf Ramli Pengurus DPP PANJI Jeneponto di Komplek Belakang Pasar Tolo Kecamatan Kelara

LISTINGBERITA.COM, JENEPONTO – Pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah, ribuan korban mengungsi ke beberapa daerah di provinsi Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Jeneponto.

Sebanyak kurang lebih 100 korban gempa dan tsunami dari Palu, Sigi, dan Parigi Moutong serta Donggala mengungsi di beberapa kecamatan di Kabupaten Jeneponto, termasuk di kecamatan Kelara.

Wakil sekretaris DPP PANJI, Zul Lallo, menyampaikan, 30 orang korban yang mengungsi di Desa Karelayu Kecamatan Tamalatea, selama mengungsi di pegunungan tidak tidak tersentuh makanan.

“Menurut pengakuan korban rumahnya hancur rata dengan tanah, mereka mengungsi ke gunung Donggala dan selama 4 hari tidak makan dan minum, sekarang mengungsi di rumah keluarganya di Jeneponto,” ungkap Zul

Berdasarkan informasi, data yang dihimpun Dewan Pengurus Pusat Persatuan Jurnalis Independen (DPP PANJI) jumlah korban yang tiba di Jeneponto sebanyak 70 Korban.

“Korban gempa dan tsunami sudah ada kurang lebih 100 orang yang tiba di Jeneponto, di Tolo Kecamatan Kelara 17 pengunsi, Desa Datara Kecamatan Bontoramba 16 orang, Desa Karelayu Tamalatea 30 orang Kelurahan Empoang Selatan 2 orang, Bangkala 5 orang dan ada beberapa orang sudah tiba namun belum valid datanya,” kata Koordinator devisi monitoring dan investigasi DPP PANJI Rauf Ramli kepada awak media, Sabtu 6 Oktober 2018.

Rauf menyayangkan, tidak adanya kepedulian pemerintah Kabupaten Jeneponto terhadap korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah yang mengungsi di Jeneponto.

“Kami sangat menyangkan puluhan korban ini tidak dipedulikan oleh pemerintah Jeneponto, mereka hanya sibuk buka posko bantuan, namun tidak peduli dengan korban yang mengungsi ke Jeneponto, harusnya pemerintah buka posko pengungsi untuk menangani korban yang mengungsi ke daerah kita ini, Korba perlu diperiksa kesehatannya, dan tentunya Pemerintah harus mendata berapa Korba yang mengungsi di Jeneponto,” Jelas Rauf Ramli

Rahmi salah seorang korban gempa dan tsunami asal kabupaten Parigi Sulteng, mengaku mengungsi di rumah keluarganya di Tolo yang merupakan kampung halaman Bupati Jeneponto, sangat mengharapkan sentuhan pemerintah. Karena ia tak punya harta benda lagi, rumah dan perahu miliknya yang sehari-hari digunakan untuk mencari nafkah demi menafkahi tiga orang anaknya, kini telah hancur dihantam gempa dan gelombang tsunami berkekuatan 7,4 magnitudo Jumat, 28 September 2018 pekan lalu. Rahmi hanya menyisahkan selembar pakaian yang membalut tubuhnya saat gempa dan tsunami terjadi. Saat itu Rahmi sekeluarga berlari sejauh kurang lebih 15 kilo meter sambil menggendong anaknya yang masih berusia 6 bulan untuk menyelamatkan diri ke gunung, namun ketika berada di gunung ia sempat tidak makan selama tiga hari, tiga malam.

“Saya dan suami serta anak-anakku mengungsi di rumah keluarga, kami kesini tidak membawa apa-apa,hanya baju di badan saja, semoga pemerintah dapat membantu kami, 17 orangka pak tiba disini,” harapannya

Setelah tiba di Jeneponto ke 17 korban gempa dan tsunami Sulteng itu diajak makan bersama oleh DPP PANJI yang dipusatkan di rumah kediaman Koordinator deviso monitoring dan investigasi DPP PANJI Rauf Ramli

( SN )

No More Posts Available.

No more pages to load.