Jufri Kades Datara Dituduh Berikan Keterangan Palsu Terkait Pemberian Uang Alih Fungsi Lahan di Jeneponto

oleh -
Pananrangi, Mantan kepala Desa Datara, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto, Sulsel

LISTINGBERITA.COM, JENEPONTO,- Mantan kepala Desa Datara, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto, Sulsel, Pananrangi memberikan penjelasan terkait dugaan alih fungsi lahan di dusun Tamasongo, Desa Datara, yang diduga dilakukan kepala Desa Datara Muh. Jufri Lau.

Pananrangi menjelaskan, saat itu H. Salinringi mencari lokasi untuk pembangunan sekolah SMAN 3 Bontoramba, Ia pun menunjukkan tanah milik almarhum Masrajuddin ( Raja ), dan saat itu dibuatkanlah akte hibah dan disepakati untuk pembangunan sekolah.

” saya menunjukkan lokasi (lahan) milik Alm Radja, kepada mereka untuk dijadikan pembangunan sekolah untuk dibuatkan akte hibah dan sudah sesuai kesepakatan kami untuk pembangunan sekolah pada waktu itu” Ungkap Pananrangi.

Pananrangi mengaku, setelah tidak menjabat lagi sebagai kepala Desa Datara, Ia sudah tidak tahu lagi proses perekembangan selanjutnya.

“Setelah saya menanggalkan jabatan sebagai kepala desa Datara, proses perkembangan selanjutnya saya tidak tahu lagi, karena sudah ada kepala Desa baru sehingga saya tidak mengikuti proses kelanjutannya, ” ujar Pananrangi saat ditemui wartawan, Selasa, (10/11/2020).

Menurut Pananrangi, rencana awal memang untuk pembangunan sekolah SMAN 3 Bontoramba, bukan lapangan olahraga, dan itu semua sudah diambil alih kepala desa terpilih, yakni Muh. Jufri Lau. Ia berani dipertemukan semua pihak terkait, kalau lahan hibah diperuntukkan pembangunan sekolah, bukan lapangan olahraga,” tegas Pananrangi.

Sementara itu, Sarsinah istri almarhum Radja mengaku tidak pernah menerima uang ganti rugi dari kepala Desa Datara Muh. Jufri Lau seperti yang dituduhkan kepadanya.

“kepala desa Datara telah memberikan keterangan palsu dan berbohong kepada masyarakat Datara bahwa kami sekeluarga diberikan sejumlah uang yang keluar dari kementerian pendidikan dan Pemudah olahraga sebanyak 190 juta untuk dikelola, kami hanya diberikan uang 3 juta karena kami disuruh menanam rumput dan itu merupakan gaji bersama suamiku,”ungkap Sarsinah, ditemui wartwan beberapa hari yang lalu. sembari mengusap air matanya.

Keluarga Sarsina akan menempuh jalur hukum, jika tidak mendapatkan kejelasan dari kepala Desa yang masih satu hubungan ikatan keluarga.

” kalau ini tidak ada kejelasan, maka kami sekeluarga akan menempuh jalur hukum dan akan menuntut kepala Desa atas pengalihan fungsi lahan,” tegas Sarsina.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

No More Posts Available.

No more pages to load.