KPU Palopo Gelar Simulasi Tungsura, Pemilih Masih Kebingungan di TPS

oleh -374 views
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palopo menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara (Tungsura) di Pusat Niaga Palopo (PNP), Selasa (09/04/2019).

LISTINGBERITA.COM|PALOPO – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palopo menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara (Tungsura) di Pusat Niaga Palopo (PNP), Selasa (09/04/2019).

Dalam simulasi yang melibatkan sebanyak 50 warga setempat, masih ditemukan adanya warga yang belum memahami mekanisme pencoblosan serta tata cara memberikan hak suaranya di bilik suara.

Mereka masih terlihat kebingungan sehingga harus diarahkan oleh petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas di TPS tersebut. Rata-rata wajib pilih memakan waktu sekitar 3-4 menit di bilik suara.

Baca Juga ! :  18 Pesepak Bola Terbaik Luwu Utara Ikut Soeratin Cup, IDP Harapkan yang Terbaik

Selain itu, pihak KPU Palopo juga simulasikan adanya protes wajib pilih yang menggunakan e-KTP, karena ingin dilayani di bawah pukul 12.00 Wita. Padahal aturannya pemilih yang menggunakan e-KTP baru bisa dilayani setelah pukul 12.00 waktu setempat.

Komisioner KPU Kota Palopo Divisi Teknis, Ahmad Adiwijaya, mengatakan, salah satu kekeliruan yang paling rawan terjadi saat pemungutan suara adalah pemilih tambahan.

Baca Juga ! :  Gelar Patroli Rutin, Sat Sabhara Polres Palopo Sita Puluhan Liter Ballo

“Pemilih DPTb yang mengantongi form A.5, atau pemilih yang pindah, cukup rawan kekeliruan. Sebab pemilih pindahan itu tidak semua surat suara diberikan,” kata Ahmad Adiwijaya.

Ia juga menjelaskan, setiap TPS rata-rata jumlah pemilih sebanyak 180-250 DPT.

Sementara itu, Ketua KPU Palopo, Abbas Johan, mengatakan ukuran TPS harusnya 10 x 8 meter sesuai aturan PKPU. Namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan sehingga kurang dari ukuran tersebut.

Baca Juga ! :  Pihak IAIN Palopo Akan Berhentikan Oknum Dosen Yang Barter Nilai Mahasiswanya

“Aturan PKPU itu, TPS harus berukuran 10 x 8 meter. Namun karena ini hanya simulasi dan kondisi yang tidak memungkinkan sehingga kurang dari ukuran yang sebenarnya,” terang Abbas Johan.(**)