Guru dan Ortu Siswa di Jeneponto Saling Lapor, Anak Diduga Dicekik hingga Ditampar

Hj Rahmatia, orang tua siswa sat menunjukkan bukti laporan Polisi dihadapan awak media.

JENEPONTO, — Kasus dugaan kekerasan di UPT SDN 14 Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, berbuntut panjang. Setelah guru Hj Nursiah melaporkan orang tua siswa terkait dugaan penganiayaan, kini orang tua siswa tersebut melaporkan balik sang guru atas dugaan kekerasan terhadap anak.

Orang tua siswa, Hj Rahmawati, membuat laporan di SPKT Polres Jeneponto pada Rabu (12/8/2026). Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/552/VIII/2026/SPKT/Polres Jeneponto/Polda Sulawesi Selatan.

Rahmawati mengatakan laporan itu dibuat setelah dirinya mengetahui anaknya, Arfan, diduga mengalami kekerasan saat berada di sekolah pada Senin (10/8/2026).

Dia mengaku awalnya mengetahui informasi tersebut dari sesama wali murid ketika sedang berjualan di pasar.

“Awalnya saya di pasar menjual, dan saya dipanggil oleh salah satu orang tua murid. Katanya anaknya juga ditekan dan diancam oleh guru ini. Dari kemarin kasus yang menimpa anak saya sebenarnya sudah diketahui,” kata Rahmawati saat dikonfirmasi, Rabu malam (12/8).

Rahmawati mengaku sempat tidak mempercayai informasi tersebut. Namun, setelah mendapat penjelasan dari wali murid lainnya, dia kemudian menanyakan langsung kepada anaknya.

Menurut pengakuan Rahmawati, Arfan kemudian menceritakan dirinya diduga mengalami kekerasan fisik di sekolah.

“Arfan dicekik, ditarik dan diseret masuk ke kelas, baru ditempeleng (ditampar),” ujarnya.

Rahmawati juga mengklaim sang guru menyampaikan pesan kepada anaknya yang kemudian membuat dirinya tersulut emosi.

Menurutnya, pesan tersebut berisi tantangan agar dirinya datang ke sekolah dan disebut-sebut tidak takut meski orang tua siswa merupakan keluarga anggota polisi atau tentara.

Mendengar cerita tersebut, Rahmawati kemudian mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan kepada guru yang bersangkutan.

Namun, pertemuan itu justru berujung keributan. Rahmawati mengaku terjadi aksi saling dorong setelah dirinya merasa akan diserang terlebih dahulu.

“Sempat saya bertanya, ‘Kau cari saya, kau yang pukul anakku?’ Tiba-tiba dia mau hantam saya lebih dulu sehingga saya merespons. Setelah itu saya dorong dan langsung terjatuh,” ungkapnya.

Rahmawati juga membantah informasi yang menyebut dirinya bersama dua orang lainnya melakukan pengeroyokan terhadap guru tersebut.

Dia mengatakan sejumlah orang yang datang bersamanya justru berupaya melerai keributan.

“Saya tegaskan semua informasi yang beredar tidak semuanya benar. Sampai dibilang tiga orang melakukan pengeroyokan. Memang kami bertiga, tapi hanya melerai, termasuk satpam sekolah dan tukang bersih,” tegasnya.

Akibat kejadian tersebut, Rahmawati menyebut anaknya mengalami trauma dan enggan kembali bersekolah. Bahkan, anaknya disebut meminta untuk dipindahkan ke sekolah lain.

“Anak saya trauma berat, bahkan meminta pindah. Harapannya agar guru tersebut diberikan tindakan tegas agar menjadi pendidik yang lebih baik,” katanya.

Rahmawati berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto dan kepolisian dapat mengusut laporan tersebut secara objektif serta mengambil langkah sesuai ketentuan.

“Saya melapor atas dugaan penganiayaan karena anak saya sampai terganggu secara psikis dan traumanya berat,” pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *