BULUKUMBA,- Kanker Serviks atau kanker leher rahim adalah salah satu penyebab kematian tertinggi perempuan di dunia.
Di Indonesia sendiri, penyakit ini menduduki peringkat kedua paling sering menyerang perempuan.
Data dari Global Cancer Observatory WHO tahun 2020 ,ada sekitar 36.000 kasus baru dan 21.000 kematian setiap tahunnya.Artinya sekitar 57 perempuan meninggal setiap hari akibat kanker serviks.
Padahal, penyakit mematikan ini bisa dicegah sejak masa anak-anak melalui Human Papillowmavirus (HPV).Dan sejak tahun 2022 pemerintah telah menyediakan imunisasi HPV secara gratis untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 sekolah dasar melalui program unggulan ,Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilaksankan setiap bulan Agustus
Olehnya itu ,Unicef berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Bulukumba, Dinas Pendidikan Bulukumba dan juga Kemenag Bulukumba untuk bersama sama melakukan sosialisasi terkait pentingnya imunisasi HPV untuk anak sekolah.
Kegiatan sosialisasi ini dilakukan di Gedung Pinisi yang dihadiri sejumlah perwakilan Puskesmas dan juga sekolah di Bulukumba, Rabu ,18 Juni 2025.
Sejauh ini capaian imunisasi HPV anak sekolah masih dibawah 90 persen atau hanya 88,9 persen.Hal ini dikarenakan adanya ketidakpahaman para orang tua tentang pentingnya imunisasi HPV untuk anak-anak dan juga ketidaktahuan tentang dampak imunisasi atau KIPI yang biasa timbul pasca imunisasi.
Kepala bidang P2 Dinkes Bulukumba, Johan Pasmar mengatakan ,bahwa dari hasil analisis dilapangan ditemukan beberapa orang tua khawatir usai pasca imunisasi dilakukan atau yang kerap disebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI yang biasanya ada gejala demam ringan, dan ini yang membuat para orang tua khawatir.
“Jadi bukan penolakan tapi hanya ke khawatiran saja ,karena biasanya usai imunisasi ada kasus seperti demam ringan dan itu pun tidak semua yang diberikan imunisasi mengalaminya,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Bulukumba, Andi Buyung Saputra menekankan bahwa peran penting sekolah memang diperlukan untuk sosialisasi akan pentingnya imunisasi HPV ini.
“Dulu pernah ada kasus sekolah ditutup karena para orang tua menolak pemberian imunisasi HPV ini, namun setelah dihari kedua kita kembali memberikan sosialisasi ,alhamdulillah justru para orang tua sudah mau anaknya diimunisasi ,”ungkapnya.
Andi Buyung menambahkan, bahwa sebenarnya yang harus dilakukan adalah bagaimana cara penyampaian imunisasi ini kepada masyarakat ,bagaimana cara komunikasinya, sehingga benar benar apa yang ingin disampaikan dipahami atau bisa diterima dengan baik.
Sementara itu ,Direktur Eksekutif Portkesmas ,Basra Amru menegaskan pentingnya edukasi sebelum layanan imunisasi diberikan .Keberhasilan imunisasi tergantung kepercayaan masyarakat.
“Edukasi jangan menunggu layanan dimulai.Kita perlu hadir lebih awal ,menjawab keraguan dan membangun pemahaman yang kuat dimasyarakat,”tegasnya .
UNICEF Indonesia menyampaikan bahwa edukasi adalah upaya pencegahan paling penting.Dengan edukasi yang benar ,anak-anak dan orang tua jadi paham pentingnya imunisasi dan termotivasi untuk memanfaatkan layanan imunisasi di sekolah dan puskesmas.
“Setiap anak berhak untuk sehat dan terhindar dari ancaman penyakit. Melalui Jaga Bersama ,kami mendampingi daerah agara edukasi dilakukan dengan metode yang berbasis bukti dan sesuai dengan budaya masyarakat,” ujar Rizki Ika Syafitri ,Spesialis Perubah Prilaku UNICEF Indonesia.