Sherly Tjoanda: Gubernur Perempuan Pertama Maluku Utara yang Menorehkan Sejarah

Sherly Tjoanda
Sherly Tjoanda Laos - Gubernur Maluku Utara (2025–2030)

Dari pengusaha dan istri bupati, Sherly Tjoanda melangkah ke panggung politik paling bergengsi di Maluku Utara — menjadi perempuan pertama yang memimpin provinsi kepulauan kaya nikel ini sejak resmi dilantik pada 20 Februari 2025.

Latar Belakang dan Pendidikan

Sherly Tjoanda lahir pada 12 Agustus 1982 di Ambon, Maluku, dari pasangan Paulus Tjoanda dan Maria Margaretha Liem. Ia merupakan keturunan Tionghoa dengan garis keturunan Hakka dari pihak ibu. Menempuh pendidikan sarjana di Universitas Petra, Surabaya, dengan program studi Manajemen Bisnis Internasional, Sherly kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Inholland University, Belanda — sebuah perjalanan akademis yang membentuk wawasan global dan kemampuan tata kelola yang kelak sangat diperlukan dalam karier politiknya.

Kiprah Sebelum Menjadi Gubernur

Sebelum terjun ke dunia politik, Sherly Tjoanda dikenal sebagai pengusaha aktif dan figur sosial di Maluku Utara. Ia menjabat sebagai Ketua TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Kabupaten Pulau Morotai dari 2017 hingga 2022 — mendampingi suaminya, Benny Laos, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Morotai. Peran ini mengasah kepekaan sosialnya terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput, terutama perempuan dan keluarga di wilayah kepulauan yang secara geografis terpencil.

Perjalanan Menuju Kursi Gubernur: Tragedi di Balik Kemenangan

Jalan Sherly menuju jabatan gubernur diliputi duka yang mendalam. Suaminya, Benny Laos — calon Gubernur Maluku Utara yang diusung koalisi delapan partai — meninggal dunia pada 12 Oktober 2024 akibat ledakan speedboat saat berkampanye di Kepulauan Taliabu. Insiden ini mengguncang peta perpolitikan Maluku Utara sekaligus meninggalkan kekosongan yang harus segera diisi.

Dalam rentang tujuh hari yang ditetapkan regulasi pemilu, koalisi yang semula mengusung Benny Laos — terdiri dari NasDem, Demokrat, PKB, PAN, PPP, Gelora, PSI, dan Partai Buruh — bulat mencalonkan Sherly Tjoanda sebagai pengganti. Pencalonannya dikonfirmasi resmi oleh KPU pada 24 Oktober 2024, dan ia melanjutkan perjuangan berpasangan dengan Sarbin Sehe sebagai calon wakil gubernur.

“Tidak ada lagi kubu-kubu, tidak ada lagi perbedaan yang harus dipertajam. Yang ada hanyalah satu Maluku Utara, satu masyarakat yang bersatu.”

Sherly Tjoanda, usai ditetapkan sebagai gubernur terpilih, Sofifi, 6 Februari 2025

Kemenangan Bersejarah di Pilkada 2024

Pada Pemilihan Kepala Daerah Serentak 27 November 2024, Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe berhasil meraih 50,73% suara — mengalahkan tiga pasangan calon lainnya, termasuk petahana dan tokoh berpengaruh seperti Husain Alting Sjah, Sultan Tidore yang juga mantan senator. Gugatan dari tiga pasangan calon yang ditetapkan ke Mahkamah Konstitusi akhirnya seluruhnya ditolak pada 5 Februari 2025. KPU Provinsi Maluku Utara secara resmi menetapkan kemenangan pasangan Sherly–Sarbin pada 6 Februari 2025.

Sherly Tjoanda adalah gubernur perempuan pertama Maluku Utara, sekaligus menjadi salah satu dari segelintir Gubernur keturunan Tionghoa-Indonesia yang berhasil dipilih langsung oleh rakyat dalam sejarah demokrasi lokal Indonesia.

Pelantikan Resmi oleh Presiden Prabowo

Pada 20 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2025–2030 di Istana Merdeka, Jakarta — bersamaan dengan pelantikan serentak 961 kepala daerah dan wakil kepala daerah dari seluruh Indonesia. Prosesi bersejarah ini menandai babak baru kepemimpinan di provinsi yang kaya akan sumber daya nikel tersebut.

Visi dan Prioritas Pembangunan

Usai pelantikan, Sherly Tjoanda menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya bertumpu pada tiga pilar: pertama, penguatan infrastruktur jalan dan jembatan yang menghubungkan wilayah produsen ke konsumen, khususnya untuk sektor pertanian dan nelayan; kedua, peningkatan akses pendidikan berkualitas dan terjangkau; dan ketiga, percepatan layanan kesehatan yang merata di seluruh wilayah kepulauan Maluku Utara.

Pemerintahannya juga mengusung visi “Maluku Utara yang Berdaya, Sejahtera, dan Inklusif” dengan menekankan pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi pesisir sebagai motor pertumbuhan daerah yang strategis di kawasan timur Indonesia.



banner 200x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *