Bayi Nakla Kritis, Wakil Ketua DPRD Bulukumba Syahruni Berang: Jangan Tunggu Warga Miskin Meregang Nyawa!

BULUKUMBA,—Kasus bayi miskin Nakla Safira yang kritis karena tak makan dan minum susu selama 10 hari, belakangan ini mengguncang media sosial di Bulukumba, Sulawesi-Selatan .Kasusnya menjadi viral  dan menjadi sorotan berbagai publik.

Keprihatinan terhadap bayi malang yang sudah kehilangan ibunya sejak baru berumur sebulan itu, tidak hanya datang dari masyarakat namun juga para politikus di Bulukumba.

Peristiwa ini menuai keprihatinan sekaligus sorotan terhadap pendataan dan penanganan warga rentan di Kabupaten Bulukumba.

Pimpinan DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, menyayangkan kasus warga miskin yang kesulitan mengakses layanan kesehatan karena terkendala biaya dan kepesertaan BPJS Kesehatan.

Menurut Syahruni, kasus serupa bukan kali pertama terjadi. Ia menyebut, bahkan ada warga yang akhirnya meninggal dunia setelah tidak mendapatkan penanganan medis sebagaimana mestinya.

Ia meminta Dinas Sosial dan BPJS Kesehatan memperkuat koordinasi serta memperluas pendataan masyarakat rentan, agar warga yang membutuhkan tidak luput dari bantuan dan layanan kesehatan.

Menurutnya ketika kemiskinan membuat sebuah keluarga tak mampu membeli susu, sementara ketakutan akan biaya menghalangi akses ke rumah sakit, yang dipertaruhkan bukan sekadar kesejahteraan, melainkan juga keselamatan nyawa.

“Ini sudah berulang kali terjadi karena tidak ada BPJS akhirnya tidak ke rumah sakit, jadi saya meminta kepada pihak BPJS dan juga Dinas Sosial berkolaborasi bagaimana melakukan pendataan yang tepat kepada warga, agar warga seperti ini bisa tertolong, jangan karena variabel aturan sehingga nyawa seseorang terancam,” tegasnya saat mengunjungi bayi Nakla Safira di ruang ICU RSUD Bulukumba, Kamis 23 Oktober 2026.

Politikus partai Gerindra ini menilai Kasus Nakla menjadi pengingat bahwa masyarakat rentan membutuhkan kehadiran negara, terutama ketika mereka tak lagi mampu menolong dirinya sendiri.

” Jangan sampai, keterbatasan ekonomi dan persoalan administrasi membuat warga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pertolongan,” tambahnya lagi.

Sebelum kasus bayi Nakla, ada beberapa kasus warga terlantar dan tidak mendapatkan perawatan medis di layanan kesehatan karena tak memiliki BPJS ,bahkan ada yang merenggang nyawa seperti kasus busung lapar di Desa Bontonyeleng

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *