Sejumlah Guru dan ASN Mengadu Ke DPRD Bulukumba, Dimutasi Ditempat yang Jauh Tanpa Pemberitahuan.

oleh
oleh

BULUKUMBA, Sejumlah ASN di Bulukumba mendatangi komisi 4 DPRD Bulukumba, Sulawesi-Selatan, Selasa ,2 September 2025.

Mereka mengadukan nasib mereka yang dimutasi ke tempat yang jauh dari rumah tinggal mereka, bahkan setiap hari harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju tempat kerja.

Salah satunya adalah Rahmawati salah seorang guru yang tinggal di Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukumpa yang tiba-tiba dimutasi tanpa pemberitahuan sebelumnya ke Desa Tamaona Kecamatan Kindang yang jaraknya kurang lebih 60 km.

Tidak hanya dia, suaminya pun di mutasi ke Kelurahan Mario Rennu Kecamatan Gantarang.

” Saya mempertanyakan kenapa tiba tiba dimutasi, padahal sekolah tempat saya bekerja kekurangan guru, sementara sekolah yang saya ditempatkan sekarang ,justru gurunya full,” Ujar Rahmawati.

Rahmawati juga menambahkan meminta agar ditempatkan satu daerah dengan suaminya ,agar suaminya tidak capek saat mengantarnya ke tempat kerjanya.

“Bila ini adalah hukuman bagi saya ,saya meminta agar ditempatkan di tempat yang sama dengan suami saya, bayangkan suami saya harus mengantarkan saya ke Tamaona kemudian kembali lagi dan menuju tempat kerjanya di Mario Rennu,” Jelasnya lagi.

Bahkan menurut Rahmawati dia sudah dua kali terjatuh saat berangkat ke sekolah, selain karena tempatnya yang jauh, juga kondisi fisik yang lelah.

 

“Saya sudah dua kali terjatuh saat ke sekolah, tiba disekolah pun saya harus mengajar dengan kondisi yang tidak maksimal, anak anak juga harus telat menerima pelajaran”,jelasnya lagi.

Bukan hanya Rahmawati dan suaminya, keluhan yang sama juga disampaikan Marliyah, seorang guru yang sebelumnya mengajar di SD 24 Salemba Kecamatan Ujung Bulu, kemudian dimutasi tanpa sebab ke Kecamatan Rilau Ale, padahal dia sendiri bermukim di Kecamatan Ujung Bulu.

“Bayangkan saya berangkat setelah sholat subuh, diantar jemput oleh suami, dengan ongkos 100 ribu perhari ,jadi 600 perminggu, belum lagi ongkos makan dan minum,” ujarnya Marliyah.

Ramlan Hasan salah seorang ASN yang juga turut dimutasi tanpa alasan jelas, sangat menyayangkan sikap pimpinan yang seolah olah memiskinkan ASN nya, dia memaparkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan perhari hanya untuk bekerja.

“Setiap hari saya mengeluarkan ongkos 150 ribu, bila dikali sebulan itu sama dengan 3 juta 500 ribu, dimana saya mau ambil uang, ini bukan lagi kesejahteraan tapi seolah-olah kami ASN dimiskinkan,” keluhnya.

Ramlan Hasan yang mewakili teman-temannya mengatakan kemungkinan mereka dimutasi karena persoalan pilkada sebelumnya, padahal menurutnya dirinya tidak pernah terlibat dalam poltik praktis.

“Kemungkinan karena persoalan Pilkada kemarin, padahal bisa dipantau medsos saya, dimana ada sikap dan pernyataan saya mendukung salah satu Paslon, dan kemungkinan ada laporan dari oknum tertentu yang ingin merusak saya, ” tambahnya.

Olehnya itu para ASN yang dimutasi ini berharap mutasi mereka bisa ditinjau kembali agar mereka bisa bekerja sebagai abdi negara dengan maksimal dan tidak merugikan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.