JENEPONTO, – Sebuah surat berisi keluhan terkait proses pembelajaran di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, beredar dan menjadi perhatian. Surat tersebut menyoroti seorang guru mata pelajaran sejarah yang disebut jarang masuk mengajar.
Dalam surat yang beredar, penulis mengaku sebagai orang tua siswa SMAN 9 Jeneponto. Penulis menyampaikan keberatan karena anaknya disebut beberapa kali mengeluhkan guru sejarah yang dinilai jarang memberikan pembelajaran di kelas.
“Guru yang hanya sekali atau bahkan tidak pernah masuk mengajar sampai anak saya lulus,” demikian salah satu isi keluhan dalam surat tersebut.
Penulis surat juga menyebut guru yang dimaksud bernama Winarso. Namun, tudingan tersebut masih merupakan isi surat keluhan dan belum terverifikasi secara independen.
Dalam surat itu, penulis menegaskan bahwa tujuan keluhan bukan untuk meminta nilai bagi anaknya. Penulis mengaku berharap anaknya mendapatkan pembelajaran dan pendalaman ilmu sebagaimana mestinya.
Soroti Kehadiran Guru
Surat tersebut juga menyinggung kehadiran guru sejarah yang disebut hanya datang ke sekolah ketika ada panggilan dari kepala sekolah. Bahkan, penulis mengklaim guru tersebut hanya masuk mengajar sekitar satu kali dalam sepekan.
Penulis membandingkan kondisi tersebut dengan beban jam mengajar selama lima hari dalam sepekan.
“Kenapa hanya satu kali sekolah setiap minggu, itupun cepat pulang tidak sampai selesai jam pembelajarannya,” tulis penulis.
Keluhan tersebut kemudian mempertanyakan pengawasan pihak sekolah terhadap aktivitas pembelajaran guru.
Penulis juga meminta agar persoalan tersebut menjadi perhatian pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan.
Minta Ada Evaluasi
Dalam surat yang sama, penulis meminta lembaga pendidikan terkait melakukan evaluasi terhadap kondisi tersebut. Penulis berharap para guru di SMAN 9 Jeneponto dapat menjalankan tugas secara profesional.
Surat itu juga menyebut pihak penulis mengaku pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada pejabat terkait, namun mengklaim belum melihat adanya perubahan.
“Sudah pernah ditelepon sama Pak Kadis tapi tidak ada perubahan,” tulisnya.
Di bagian akhir surat, penulis meminta masyarakat membantu menyebarluaskan informasi tersebut agar mendapat perhatian.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 9 Jeneponto, Irwan, belum memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut. Upaya konfirmasi telah dilakukan sebanyak tiga kali melalui pesan WhatsApp, namun hingga berita ini ditulis belum mendapat tanggapan.
Saat kembali dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu sore (8/8/2026), nomor yang bersangkutan dalam kondisi aktif dan terdengar berdering, namun belum ada respons dari Irwan.








