JENEPONTO – Memperingati Hari Kartini, 21 April 2026, Anggota DPR RI, Dr. Hj. Meity Rahmatia, mengunjungi ibu-ibu dan anak-anak korban kebakaran di Kelurahan Tolo Selatan, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu (20/04/2026).
Kunjungan kemanusiaan ini menjadi wujud empati mendalam politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut terhadap warga terdampak.
Meity berangkat sehari sebelum peringatan Hari Kartini dan menempuh perjalanan sekitar 117 kilometer atau kurang lebih tiga jam demi menemui para korban yang merupakan bagian dari konstituennya.
Ia mengaku sangat prihatin karena di antara para korban terdapat ibu-ibu dan anak-anak yang kini harus mengungsi.
“Sangat bersedih karena para korban harus kehilangan tempat tinggal. Terlebih lagi ada ibu-ibu dan anak-anak sebagai kelompok rentan,” ungkap Meity.
Ia berharap para korban dapat melalui masa sulit ini dengan ketabahan.
“Setiap musibah adalah ujian dari Allah SWT. Saya berharap saudara-saudara saya dapat melalui peristiwa ini dengan lapang dada dan segera mendapat pengganti yang lebih baik. Insya Allah,” ujarnya.
Peristiwa kebakaran terjadi pada Minggu, 19 April 2026 sekitar pukul 14.00 WITA. Sebanyak empat unit rumah warga hangus dilalap api. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun kerugian materiil ditaksir mencapai Rp850 juta.
Saat ini, sebagian korban mengungsi di rumah kerabat, sementara lainnya tinggal sementara di masjid yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Dalam kunjungannya, Meity bersama rombongan menyerahkan bantuan berupa sembako dan dukungan materi untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban.
Mengaitkan kunjungannya dengan peringatan Hari Kartini, Meity menilai bahwa momen mengenang jasa pahlawan semestinya diisi dengan kepedulian nyata terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang tertimpa musibah.
“Di negara yang kaya ini, masih banyak saudara kita yang belum mendapatkan kehidupan layak. Alangkah baiknya jika peringatan sejarah diisi dengan aksi kemanusiaan,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa nilai bantuan bukan terletak pada besarnya materi, melainkan pada kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan bagi para korban.
“Bukan nilai materinya yang utama, tetapi rasa kepedulian yang tumbuh akan memberikan harapan kepada para korban,” pungkasnya.
