BULUKUMBA, – Masyarakat Pulau Liukang Loe, Desa Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan bersama Kolaborasi Biru kembali mendesakkan pemenuhan listrik energi terbarukan untuk Masyarakat Pulau Liukang Loe bertepatan dengan Hari Bumi, pada Selasa, 22 April 2026.
Aksi ini sekaligus merespon pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menggenjot pembangunan Pembangkit Listrik Energi Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW) dalam tiga tahun.
Relawan Kolaborasi Biru, Anjar S Masiga menjelaskan, pulau kecil ini sedang menanggung beban ganda, pada satu sisi pulau seluas 6 km persegi secara nyata telah terdampak krisis iklim. Terjadi kerusakan terumbu karang di wilayah perairan dangkal, abrasi yang mengancam perkampungan mereka juga gelombang pasang yang kian tak menentu yang mengganggu akses utama warga pulang pergi menuju daratan utama.
“Di tengah hingar bingar pembangunan pembangkit listrik untuk kawasan industri di pulau sulawesi, sampai saat ini Liukang Loe belum mendapatkan akses listrik yang memadai,” jelasnya.
Pulau Liukang Loe terdiri dari dua kampung, Tabuntuleng RW 9 RT 17-18 dan Pasi’ Lohe dengan jumlah 232 KK terdiri. Ada 183 rumah, 1 sekolah satap (SD & SMP) 1 Puskesmas Pembantu (Pustu), dan 2 masjid. Pada akhir 2024 mendapatkan dukungan PLTS Atap dari PLN sebanyak 82 unit yang dibagikan ke seluruh fasilitas umum dan sejumlah rumah warga atau sekira 44 persen. Namun masih ada 105 rumah atau 56 persen yang belum tersentuh PLTS.
Masyarakat Pulau Liukang Loe sejak lama bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), pembangkit listrik yang mengandalkan minyak solar. Repotnya, Pulau kecil ini bukan penghasil solar, membimbulak banyak masalah, mahal, dan banyak kendala terutama dalam penyediaan dan distribusinya, sementara hasil listriknya hanya dinikmati 4 jam sehari dengan biaya yang mahal.
Desakan kepada Pemerintah untuk memulai realisasi komitmen PLTS di Pulau Liukang Loe sangat realistis dan mudah dicapai mengingat pemenuhan kebutuhan listrik terbarukan hanya perlu menuntaskan 56 persen. Pulau Liukang Loe juga dapat menjadi salah satu pulau tuntas (100 persen) energi terbarukan di Indonesia. Untuk mendukung terwujudnya mimpi masyarakat Pulau Liukang selama puluhan tahun untuk mendapatkan listrik secara memadai, pemerintah diharapakan untuk mengalihkan dari subsidi energi dari energi fosil ke energi terbarukan, termasuk memajaki energi fosil yang hasilnya dapat digunakan untuk pembangunan PLTS bagi warga Pulau Liukang Loe.
Aksi ini juga mendorong Pemerintah Republik Indonesia untuk terlibat dalam upaya global untuk transisi energi termasuk hadir pada konferensi Transitioning Away Fromr Fosil Fuel di santa marta, kolombia pada 28-29 April ini.