BULUKUMBA,— Sejumlah anak-anak dan orang tua siswa kecewa setelah anak-anak mereka gagal menerima paket MBG hari ini di salah satu sekolah dasar di Desa Polewali, Kecamatan Gantarang ,Bulukumba, Sulawesi.Selatan.
Pasalnya anak- anak yang baru pulang ke sekolah.Diminta untuk kembali ke sekolah mereka pukul 16.00 WITA untuk menerima paket MBG rapelan untuk jatah 4 hari.
Namun, hingga waktu berbuka puasa tiba, anak+anak yang sejak sore menunggu bersama orang tua mereka di sekolah tak kunjung mendapatkan paket MBG yang dimaksud.
Tidak hanya anak-anak yang sangat kecewa, namun orang tua mereka yang sejak sore menemani anak-anak mereka di sekolah pun protes.
Salah seorang wali anak, Sutriani mengaku kesal dan kecewa sekali, dirinya bahkan tak sempat menyiapkan menu berbuka puasa dirumah, karena menemani sang ponakan di sekolah. Namun, hingga waktu berbuka puasa, paket MBG yang dimaksud tak kunjung datang.
“Siksanya anak-anak kasian, sudah puasa lagi. Kita juga ini dari tadi disini, ternyata tidak ada MBG nya,padahal katanya untuk paket ini jatah 4 hari,” kesalnya.
Sementara itu Korwil SPPG Wilayah Bulukumba ,Wahyu mengaku bila sudah mendapatkan laporan keterlambatan pendistribusian paket Rapelan , dan menurutnya hal tersebut terjadi karena ketidaksanggupan supplier untuk memenuhi kebutuhan SPPG.
“Saya arahkan SPPG agar berkomunikasi dengan PIC sekolah dan PM lainnya… Yg bisa mengakibatkan keterlambatan pengantaran, dan memerintahkan semua SPPG melakukan komunikasi terhadap Penerima manfaatnya masing masing ,” tuturnya.
Terkait insiden di SD 37 Palambarae ,Ketua Kopri PMII Bulukumba, Nilam Mayasari turut mengecam tindakan SPPG di wilayah tersebut yang sudah membuat anak-anak kecewa.
“Saya melihat insiden di SD 37 Palambarae bukan sekadar masalah keterlambatan logistik teknis, melainkan bentuk insensivitas penyelenggara terhadap kondisi fisik dan psikologis anak-anak,” ujar Nilam Mayasari, Ketua Kopri PMII Bulukumba.
Nilam yang selama ini aktif mengkritisi pengelolaan dapur MBG Di Bulukumba yang kerap kali bermasalah ini melihat ada sesuatu yang memang janggal dalam pengelolaan dapur MBG yang dinilai tidak humanis Dimana menurutnya, meski niatnya baik tapi tanpa didasari manajemen yang profesional hanya akan melahirkan penderitaan bagi penerima manfaat.
” Kami mendesak pihak penyelenggara SPPG MBG untuk segera melakukan evaluasi transparan dan meminta maaf secara terbuka kepada para orang tua dan siswa di SD 37 Palambarae” ,pungkas Nilam.
Nilam juga menambahkan tindakan dapur MBG atau SPPG yang meminta anak-anak hadir sejak pukul 16.00 WITA di tengah kondisi berpuasa, lalu membiarkan mereka menunggu tanpa kepastian hingga waktu berbuka tiba tanpa paket yang dijanjikan, adalah tindakan yang tidak humanis. Program yang seharusnya menjadi stimulan kesejahteraan, bukan justru menjadi beban baru bagi warga.
“KOPRI PMII Bulukumba akan terus mengawal jalannya program ini. Jangan sampai program nasional yang dibiayai negara ini dikelola secara amatir sehingga mengabaikan hak-hak
dasar anak-anak kita. Kami tidak ingin keramahan warga Bulukumba dibalas dengan ketidakpastian yang mengecewakan seperti ini,” tegas Ketua Kopri PMII Bulukumba ini.
